KAU, AKU
Aku adalah masa lalu.
Dan kau adalah hari ini bersamanya.
Dan mana mungkin aku bisa terima.
Bila hanya padamu aku bisa bahagia.
Dan mana mungkin aku bisa sedih.
Bila bahagiamu sesungguhnya bahagiaku.
Ku ikhlaskan perihku untuk keabadian senyummu.
Karna takkan indah taman itu.
Tanpa bunga-bunga yang mekar merekah.
Ku ikhlaskan gelap hidupku.
Untuk terang bahagia hidupmu.
Karna tak sempurnah indahnya malam.
Tanpa purnama dalam gulita.
Meski bersamanya.
bahagiamu tetap bahagiaku.
Lupakan tentang puisiku di gojeng.
Lupakan tentang isi kado berpita hijau.
Hati ini akan terus tegar.
Seperti benteng balangnipa.
Walau takdir tak mewujudkan harapan.
Dan waktu menyatukanmu dengannya.
Rasa ini akan terus indah.
Seperti panorama bukit marra.
Walau kenyataan mengalahkan imajiku.
Dan kebahagiaanmu ternyata bersamanya.
Cinta ini akan terus abadi.
Seperti keabadian bukit gojeng.
Walau hati tak punya harapan.
Dan jodohmu ternyata dia.
Cerita ini hanya akan menyisahkan rindu.
Seperti kenangan-kenangan di tongke-tongke.
Walau masa depanmu bukanlah aku.
Dan bersamanya adalah keabadianmu.
Aku tak menyesali kebahagiaan yang kuhadiahkan untukmu.
Yang kusesali kenapa aku harus mengenalmu.
Aku salah menilai pelangi yang indah.
Yang sebentar lagi akan meneteskan hujan.
kemudian menyisahkan bulir-bulir rindu.
Seketika itu akan menghilang diantara cahaya matahari.
Hari ini aku adalah mimpi yang berlalu.
Dan kau adalah kenyataan dalam cinta bersamanya.
Hari ini aku adalah waktu yang lalu.
Dan kau adalah sekarang dan nanti bersamanya.
Hari ini aku bersama penyesalanku.
Dan kau bersama kebahagiaanmu.
Dan esok nanti akan kubuat kebahagiaanku.
Dan kau bertahan dengan penyesalanmu.
Hari ini kubiarkan hujan meninggalkan bulir rindu.
Untuk kulabuhkan didasar nurani.
Kujadikan jimat menciptakan penyesalanmu.
Karya : Jusmadi
Bikeru, 6 januari 2020
Tags:
Puisi Cinta

Posting Komentar
0 Komentar